Donate

Norek. 2671582782

a.n Daniel J Ananda ( Bendahara Yayasan Harapan )

Norek.  1010007288315

a.n Daniel J Ananda ( Bendahara Yayasan Harapan )

Kontak Kami
Pengunjung




INILAHCOM, Jakarta – Nyeri kepala sering dialami banyak orang. Jika serangan nyeri kepala sesekali sifatnya ringan, dan memiliki waktu yang pendek, serta disertai gejala penyakit lain seperti influenza, infeksi, kurang istirahat dan lain-lain maka nyeri kepala tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun, jika nyeri kepala terasa parah atau sering, periksakanlah karena bisa jadi merupakan gejala kanker otak.

Demikian penjelasan dr. Reza A Digambiro, M.Kes , M.Ked (PA), Sp.PA dalam paparannya di Seminar Current Cancer Care 2018 pada, Sabtu (3/3/2018) di Nifarro Hall Jakarta Selatan.

Statistik menunjukkan populasi penderita sakit kepala berulang, sekitar 50% memiliki tumor otak dengan sakit kepala sebagai keluhan utama, dan sampai 60% pada pasien dengan sakit kepala yang semakin memburuk. Namun demikian diagnosa kanker otak harus disertai tanda dan gejala lainnya seperti kejang atau penurunan daya belajar (kognitif), ujar dr Reza.

Ia memaparkan, manifestasi gejala nyeri kepala pada kanker otak umumnya berupa rasa tegang (tension type headache) dan muncul dengan intensitas yang cukup sering, bertahap dan selanjutnya mereda setelah beberapa jam. Gejala sakit kepala juga bisa berdenyut, menyerupai migrain.

Tumor otak, lanjutnya, juga dapat menghambat aliran cairan serebrospinal yang diikuti peningkatan tekanan intrakranial dan selalu disertai oleh nyeri kepala. Hasil pemeriksaan syaraf seringkali menunjukkan hasil yang normal dan tidak ada keluhan lain. Gejala tunggal sakit kepala jarang berhubungan dengan tumor atau kanker otak.

Gambaran nyeri kepala yang perlu dicurigai sebagai penanda kanker otak antara lain, perubahan pola sakit kepala sebelumnya, seperti menjadi lebih sering dan lebih berat; sakit kepala tidak reda ketika diberikan obat seperti biasanya serta sakit kepala semakin buruk ketika membungkuk, batuk, bersin.

Selain itu terjadi muntah berulang-ulang, nasalah pada anggota gerak, misalnya rasa lemah pada salah satu atau beberapa angggota gerak, atau bahkan kelumpuhan. Masalah sensorik (panca indra), atau gangguan visual. Gangguan memori. Gangguan kepribadian, atau berpikir, ujar dr Reza.

Ia menambahkan, perokok atau pasien dengan riwayat kanker, termasuk paru-paru, payudara, prostat, atau kanker leher, memiliki risiko tinggi kanker otak akibat proses penyebaran (metastasis) kanker tersebut ke otak. Perlu waktu yang cukup lama hingga tumor itu tumbuh sehingga menimbulkan gejala-gejala kanker otak. Gejala-gejala yang muncul juga baru memberikan kecurigaan untuk dilakukan pemeriksaan penunjang selanjutnya, tambah dr Reza.

Beberapa tumor ditemukan secara tidak sengaja, seperti selama pemeriksaan rutin untuk sakit kepala migrain atau setelah trauma kepala ringan, meskipun ini sangat jarang. Seringkali penderita tumor otak mengalami gangguan penglihatan, kelemahan pada satu sisi tubuh, bicara cadel, gangguan pendengaran, telinga berdenging, ketidakseimbangan, pusing, masalah memori dan atau kognitif, kejang, atau bahkan inkontinensia (tidak mampu menahan kencing atau BAB) secara tiba-tiba.

Untuk memastikan diagnosis tumor atau kanker otak, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang berupa pemeriksaan darah, foto rongsen, CT-Scan, ataupun MRI. Jadi, ketika Anda mengalami sakit kepala yang tak tak wajar sepeti telah dijelaskan di atas, maka periksalah ke dokter untuk memastikan ada tidaknya kanker otak, jelasnya.